|
M. Hasan
Managing Editor AUTOCAR Indonesia
Jangan berharap apa-apa ketika kita memulai suatu perjalanan. Siap-siap saja untuk menerima kenyataan. Mungkin, ini kunci bahagia.
Persiapan sebelumnya tentu harus baik. Matang dan terencana. Hasil yang baik tinggal menunggu untuk kita temui di perjalanan.
Ini soal apa? Ini adalah tentang escape atau perjalanan untuk “melarikan diri” dari rutinitas yang membelenggu di kota (kantor, bisnis, kampus, dan sebagainya).
Cobalah menuju waduk Cirata, Jawa Barat. Lokasinya di dekat Purwakarta. Pemandangannya luar biasa indah, dengan jalan-jalan yang berkelok-kelok. Rasanya ingin menukar mobil ini dengan sebuah convertible, untuk menikmati angin yang segar. Tapi, apa boleh buat, hanya bisa membuka jendela lebar-lebar dengan sedan konvensional ini.
Turun dari mobil, lalu duduk-duduk di warung kampung setempat. Makan pisang goreng dan minum teh hangat. Wow… ternyata menyenangkan. Apalagi, orang kampung enak juga diajak ngobrol. Tanya-tanya soal lokasi wisata yang dekat situ, soal makanan khas situ, soal acara adat setempat, dan sebagainya.
Ini ternyata rasanya bahagia. Menikmati alam dan masyarakatnya.
Lalu diajak seorang warga turun ke waduk. Melihat ikan. Tak lengkap rasanya bila tak membeli ikan untuk dibawa kembali ke Jakarta. Hmm.. ikannya besar-besar. Tapi, lupa tanya ikan apa namanya.
Di bagian lain waduk, ada saung yang jual kelapa muda. Haus dan dahaga pun jadi bahagia ketika air suci dari dalam tempurung kelapa hijau menjalari kerongkongan ini. Di Jakarta juga ada kelapa muda, tapi di Cirata rasanya beda.
Setelah lebih akrab dengan si warga, aku diajak makan siang di rumahnya. Dia cerita banyak soal anak laki-lakinya yang baru lulus SMA. Dia minta aku bantu carikan pekerjaan buat si pemuda. Aku senang saja ada yang minta bantuanku. Aku nikmati apa pun kenyataan yang terjadi hari itu. Aku bilang oke nanti dikabari kalau ada peluang buat si anak. Si warga pun senang, dan kami makan lahap. Masakan istrinya lumayan enak. Tempe goreng, tahu goreng, sambal, lalapan, dan ikan dari waduk.
Hari menjelang sore. Aku pamit kembali ke Jakarta. Sebagai tanda terima kasih, aku beri si warga sebuah amplop. Dia enggan menerima, tapi aku memaksa.
Nominal amplop itu tak seberapa jika dibandingkan aku harus check in di hotel di Jakarta, lalu makan di restoran, dan nonton film dengan pasangan. Belum lagi kalau pasangan ngajak belanja. Wah, bisa tekor tapi kebahagiaan yang kudapat cuma semu.
Bersama masyarakat desa di dekat waduk Cirata, aku menemukan kebahagiaan sejati. Sayang, hanya singkat waktunya.
Lain kali, aku akan escape lagi. Mungkin ke tempat lain…
|