|
|
Ahmad Safrudin
Ketua Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB)
Persoalan kualitas BBM (bahan bakar minyak) tidak hanya berimbas ke sektor lingkungan hidup. Tapi, juga berkaitan dengan bidang ekonomi. Tahun 2012, negara-negara di Asia Tenggara mencanangkan standar emisi kendaraan Euro4. Indonesia pun harus bisa mencapai target 2012 tersebut bila ingin mendapat tempat di pasar industri internasional. Apalagi, perdagangan bebas akan dibuka pada tahun tersebut. Pertanyaannya, bersemangatkah kita untuk memenangkan persaingan pasar bebas 2012?
Kualitas BBM di Indonesia sebetulnya masih perlu ditingkatkan. Bahkan, untuk mencapai standar Euro2 pun masih belum sempurna. Untuk BBM jenis bensin, memang sudah bebas timbal, namun kandungan aromatik dan olefin masih tinggi. Hal inilah yang mengganjal tercapainya standar Euro2 dengan sempurna. Yang sudah bagus justru kandungan belerang di dalam bensin yang sudah bisa memenuhi standar Euro3, yaitu 200 ppm.
Sedangkan untuk BBM jenis Solar, kandungan belerangnya masih mencapai 2.000 ppm, jauh dari standar Euro2 yang mengharuskan kandungan belerang dalam bahan bakar diesel maksimum 500 ppm.
Memang Pertamina telah menyediakan BBM yang mengarah kepada standar Euro2, yaitu Pertamax, Pertamax Plus, dan PertaDEX (Solar). Tetapi, BBM tersebut masih terganjal faktor distribusi di mana tidak di semua kota tersedia BBM tersebut.
Di sisi lain, pencanangan standar Euro2 di Indonesia belum efektif karena kalangan industri kendaraan bermotor kesulitan untuk memasukan teknologi berstandar Euro2. Alasannya, di Indonesia belum banyak tersedia bahan bakar yang memenuhi standar Euro2.
Peraturan yang mengatur pengendalian lingkungan, seperti Perda No. 2 tahun 2005 tentang pengendalian pencemaran udara juga kurang efektif. Masih banyak yang harus ditingkatkan. Setidaknya penegakan Perda itu sendiri harus dibereskan. Contohnya, uji emisi kendaraan. Perda yang mengatur uji emisi sudah ada, pihak ATPM kendaraan sudah mendukung melalui jaringan bengkel mereka, tapi tampaknya Perda tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini cukup mengherankan.
Para pemilik kendaraan yang menggunakan mesin berstandar Euro2 juga tidak terlalu peduli untuk menggunakan bahan bakar yang ‘semestinya’. Hal ini semata-mata karena faktor harga. Meskipun banyak masyarakat kita yang berkategori penghasilan menengah ke atas, tapi mereka selalu memilih bahan bakar yang paling murah.
Kalau Indonesia ingin kompetitif di bidang industri, khususnya industri petroleum dan otomotif, maka Euro4 di tahun 2012 mutlak harus dicapai. Pencapaian tersebut jelas menuntut kerjasama dan kerja keras semua pihak.
|