|
|
Audi ingin menjadi pemimpin industri otomotif dalam mengembangkan pemanfaatan terhadap sumber daya alam. Dengan motto “Audi Balanced Mobility”, perusahaan hendak mewujudkan netralisasi CO2 dari emisi yang dihasilkan oleh mesin. Inilah bentuk proyek e-gas ambisius Audi sebagai kontribusi pada keramahan lingkungan. Dan akan diperkenalkan secara resmi proyek terbarunya pada 12-13 Mei 2011 di Hambrug dalam acara The Green Capital of 2011.
Apa yang hendak dikedepankan Audi adalah mobilitas seimbang yang mengacu pada pendekatan berkelanjutan. Hal tersebut akan menjadi nilai tambah pada dunia otomotif. Selain itu, Audi hendak mendorong pemasok gas dari Jerman untuk mengoptimalkan pengolahan sumber daya alamnya.
“Penggabungan ekologi dan ekonomi adalah salah satu tantangan besar di masa depan. Untuk mencapai itu, mobilitas kendaraan harus berada pada keseimbangan. Netralisasi CO2 adalah tujuan kami,” ujar Pemimpin Audi Rupert Stadler.
Proyek e-gas telah melalui tahapan riset selama tiga tahun secara intensif. Audi akan menjadi manufaktur pertama di dunia yang akan menggunakan energi sebagai sumber daya alamnya. Beberapa kompetitor perusahaan membatasi diri untuk melakukan pembelian teknologi hijau. Tapi, Audi tetap melakukan hal itu dan malah melakukan bantuan pada pengembangan turbin angin lepas pantai yang menghasilkan daya listrik hemat energi. Selanjutnya, dayanya menjadi pasokan tenaga untuk jaringan listrik publik.
Hidrogen merupakan unsur kimia yang mampu menjadi sumber energi untuk kendaraan fuel-cell. Dalam tahapan tertentu, unsur tersebut dapat digunakan untuk memproduksi metana. Metana itulah yang akan mendukung terciptanya e-gas. Dengan begitu, proses kimia yang terjadi pada gas menjadi sebuah proses pembakaran energi untuk mesin. Dimulai awal 2013, Audi akan memulai membuat model TCNG yang mana mesinnya memakai TFSI dan sumber energinya bersumber dari e-gas.
Sari Saraswati
|