|
Oleh M. Hasan
Suara bagaikan buluh perindu milik Jewel mengalun merdu di dalam kabin mobil ini. Bait-bait lagu Foolish Games dilantunkan dengan sangat apik dan sempurna. Mobil ini pun melaju dengan tenangnya di hari libur itu. Tapi, tiba-tiba, suara sirine terdengar meraung-raung, merusak suasana. Saya berpikir untuk memberi jalan kepada ambulans, pemadam kebakaran, iring-iringan jenazah, kendaraan pengangkut bahan khusus, atau rombongan kepala negara, karena menurut undang-undang lalu-lintas, mereka perlu didahulukan.
Mobil ini pun menepi ke kiri, memberi ruang. Wusss...wusss... sekonyong-konyong melintas bagai angin topan: rombongan roda dua yang mengular. Suara knalpotnya menggelegar. Semua orang terkejut. Dan pemimpinnya yang terdepan (motor polisi) menyuruh semua pengguna jalan lain untuk minggir. Ular itu bergerak amat cepat, seolah tanpa keinginan untuk mengerem sedikit pun, dan tidak takut bila menabrak siapa pun. Wusss...wusss... “seram” dan tegang sekali suasananya...
"Benar-benar foolish games,” tiba-tiba rekan di dalam mobil bercetus. Saya agak kaget dan menoleh padanya. Dia menjelaskan, “Iya, suatu tindakan yang kurang arif, menyakitkan, dan membahayakan, tapi selalu dilakukan.”
Saya pun teringat kepada setiap konvoi, baik motor atau mobil, yang pernah saya lihat: memang semuanya bersikap serupa, yakni menyuruh pengguna jalan lain untuk minggir, dan mereka lewat dengan kencangnya.
“Apakah dengan cara itu mereka bisa menikmati perjalanan? Mengenal masyarakat dan budaya daerah yang dilalui? Saling berempati dengan lingkungan sekitar? Mendapat makna yang agung dari sebuah kegiatan touring?” sang rekan kembali berceloteh.
“Tentu tidak. Untuk mengendalikan kendaraannya agar tidak menyenggol atau menabrak pengguna jalan lain saja mereka sudah kerepotan. Apalagi untuk berempati kepada lingkungan sekitarnya,” cetus saya. “Masih beruntung bila mereka tidak mengalami kecelakaan.”
Foolish Games adalah lagu yang sangat indah. Sebuah legenda dalam civil society (masyarakat beradab). Tapi, cara melakukan touring yang serampangan adalah 'foolish games' yang lain. Selain melanggar aturan lalu-lintas, sikap itu juga mengoyak etika keberadaban, etika kesopanan, dan tenggang rasa. Mengapa tidak berkonvoi mengikuti irama lalu-lintas yang ada. Berbaur dengan denyut nadi kehidupan di lokasi yang dilalui. Memberikan empati dan mendapatkan simpati dari masyarakat sekitarnya. Itulah makna touring yang sejati.
|