|
|
|
oleh M. Hasan
'Panas setahun dihapus hujan sehari'. Inilah pepatah yang menggambarkan betapa suatu hal yang sudah berlangsung lama, bisa dilupakan orang hanya lantaran ada kejadian yang singkat. Sebagai contoh, prestasi Polri yang selama bertahun-tahun memerangi terorisme atau menangkap para pelaku tindak kriminal, seolah “terhapus” oleh masalah dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belakangan terjadi. Demikian pula sebaliknya, upaya KPK bertahun-tahun memerangi korupsi seolah “ternoda” oleh tuduhan-tuduhan pidana yang dialamatkan kepada para pimpinannya.
Ada seorang rekan muda yang selama hampir setahun belakangan cukup menikmati kegiatan berkendara rumah-kantor-rumah dengan mobil barunya. Namun, karena hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Jumat 13 November lalu, ia mendadak ingin beralih ke sepeda motor. Mengapa? Memang masih beruntung karena Jakarta tidak diguyur hujan sehari. Mungkin Ibu Kota akan benar-benar “tenggelam” seperti seloroh banyak orang bila itu terjadi. Jangankan sehari, hujan dua jam di sore hari beberapa waktu lalu itu saja, sudah membuat sengsara penduduk Jakarta. Betapa tidak, kemacetan merajalela di hampir setiap jalanan, karena genangan air ada di mana-mana.
Sang rekan mengirim pesan singkat, “Mending ttp di ktr, jgn pulang dulu, gw gerak 100 m dlm 2 jam”. Terima kasih sobat, karena berjasa meyakinkan saya untuk tidak turun ke jalan di jam pulang kantor waktu itu. Saya memilih duduk manis sambil ber-Facebook ria, menunggu saat yang tepat untuk pulang.
Berkendara dengan selamat bukan hanya tentang melaksanakan upaya transportasi tanpa cidera fisik atau tanpa kerusakan pada bodi mobil. Lebih dari itu, berkendara dengan selamat menyangkut pula kualitas hidup yang bisa kita dapatkan. Mengingat, di masa kini, ketika waktu kita di jalan semakin panjang, maka kualitas perjalanan menjadi amat penting. Kualitas didapatkan mulai dari cara hidup kita (makan sehat dan tidur cukup misalnya), perencanaan perjalanan (berangkat lebih awal agar tidak diburu waktu), pemahaman rute (memilih jalur yang paling lacar dan aman sesuai waktu dan situasi), cara mengemudi (safety driving), kondisi mobil yang prima, dan aspek hiburan (perangkat audio atau audio-visual yang memadai).
Sang rekan akhirnya urung mengganti moda transportasinya dengan sepeda motor, karena dia belakangan tahu bahwa di hari Jumat itu ribuan kuda besi pun ikut tidak bergerak karena kondisi yang benar-benar macet. Pilihannya mungkin memang bukan pada jenis kendaraannya, tapi bagaimana kita mensiasati keadaan. Kita pun dituntut untuk lebih luwes. Berdiam di kantor atau hang out di seputar kantor sambil menunggu genangan air surut tentulah bagian dari perencanaan perjalanan yang baik. Atau berhenti di sebuah restoran atau rest area untuk menyeruput segelas kopi jelas merupakan siasat jitu untuk mendapat kualitas hidup, ketimbang memaksakan diri terus bergelut dengan kemacetan, yang bisa membuat kita tampak “seram” ketika sampai di rumah.
Semoga hujan hari ini tidak menyiksa kita...
|