|
|
|
Oleh M. Hasan
Nils Ivar Bohlin (1920—2002) barangkali tidak menyangka penemuan terpenting dalam kariernya sebagai ahli teknik Volvo akan “diakali” oleh anak kecil. Safety belt –atau lazim disebut pula seat belt-- tiga titik, yang biasa kita gunakan di mobil saat ini, adalah karya yang telah menjadikan Bohlin salah satu penemu terpenting di dunia otomotif abad ke-20. Berbagai penghargaan tingkat dunia diterimanya, termasuk yang terakhir dianugerahkan pada hari dia wafat di tahun 2002, yakni namanya masuk ke dalam National Inventors Hall of Fame dari Kantor Paten Amerika Serikat. Hanya orang-orang tertentu yang masuk kelompok ini, seperti Baruch Blumberg (penemu vaksin Hepatitis B), Edwin Howard Armstrong (radio FM), Alexander Graham Bell (telepon), László Bíró (pena ballpoint), Ray Dolby (sistem suara jernih), dan Thomas Alva Edison (lampu listrik).
Bohlin memang mendaftarkan paten seat belt tiga titik di Amerika pada 17 Agustus 1959 dengan nomor paten 3043625. Tahun ini, 50 tahun usia seat belt tiga titik diperingati di seluruh dunia.
Sebelum Bohlin menemukan safety belt tiga titik, dunia permobilan telah memiliki fitur serupa. Namun, dirasa kurang aman karena hanya berupa strap yang melintasi perut pengemudi atau penumpang mobil. Bila terjadi tabrakan keras, strap ini justru bisa merusak organ tubuh. Belum lagi urusan kenyamanan, strap ini terasa 'kurang enak digunakan'.
Bohlin pun menemukan fitur yang jauh lebih aman, juga nyaman, sebagaimana yang kita gunakan saat ini. Tetapi, bagi anak-anak, tidak ada konsep nyaman dalam fitur ini. Mereka cenderung protes bila disuruh memakai safety belt, baik di jok depan maupun di jok belakang. Padahal, mereka bukan lagi balita, melainkan siswa sekolah dasar yang sudah bisa mengerti pentingnya safety belt ketika diberi arahan. Mereka mengangguk-angguk tanda setuju. Dan dengan tinggi badan di atas 120 cm, memang mereka dianjurkan memakai safety belt ketimbang child seat (untuk balita).
“Perutku tertekan, nggak enak...,” ujar salah satu dari mereka. “Aku juga nggak enak, kalo nengok mukaku kegesek seat belt...,” ujar yang lain. Tapi, sebagai orang tua, kami tetap memaksa mereka menggunakan peranti itu. Dan dengan Toyota Prius yang kami kendarai, mereka tidak bisa melepas seat belt tanpa sepengetahuan kami, karena akan muncul bunyi 'bip'. Perjalanan terus berlalu dan kami tidak lagi mendengar celoteh mereka di jok belakang. Padahal, beberapa saat yang lalu mereka selalu berbicara dan bercanda satu sama lain, seolah sudah lupa dengan masalah ketidaknyamanan seat belt yang tadi dikeluhkan. Rupanya, mereka tertidur. Tetapi, tidak terlihat seat belt yang melingkari tubuh mereka. Tidak terdengar pula bunyi 'bip' sebagai tanda seat belt dilepas. Ah... rupanya mereka lebih cerdik: seat belt tetap ditancapkan, tetapi talinya dibiarkan berada di belakang tubuh mereka. Rupanya, mereka merasa lebih bebas dengan cara seperti itu...
Nils Bohlin mungkin cuma tersenyum di alam sana, bila mengetahui akal-akalan ini... Dan ia akan masuk ke alam mimpi para insiyur Volvo masa kini, untuk menginspirasi sebuah karya baru: safety belt yang disukai anak-anak...
|