|
|
|
Oleh M. Hasan
“Seisi dunia tak bisa menggantikan kamu...” Begini SMS yang masuk ke ponsel saya, ketika pada suatu hari lalu tengah mengemudi, merayapi sesaknya lalu-lintas Jl. Jend. Sudirman di jantung Ibu Kota. Malam hari selepas 'three-in-one' itu, jalanan masih enggan melepas belenggunya. Roda-roda mobil seolah diikat rantai di mulut bottle neck Tosari. SMS itu tentu saja amat mengagetkan. Amat sangat. Sebab, datang dari nomor yang tidak saya kenal. Dan, tentu saja, karena isi pesannya luar biasa bikin penasaran. Klakson demi klakson pun menerpa telinga saya, karena pengemudi lain di belakang menganggap saya kurang cekatan, sehingga antrean di jalur saya diserobot mobil dari jalur lain. Saya membalas klakson mereka dengan teriakan: “Gak boleh orang senang baca SMS romantis?!” Tapi, teriakan itu cuma di dalam hati. Posisi saya memang bukan di pihak yang benar, karena membaca SMS sambil mengemudi...
Selepas bottle neck yang akut itu, saya makin tak bisa lepas dari rasa penasaran. Niat balik meng-SMS urung, sebab jangan-jangan orang salah kirim dan tak perlu ditanggapi. Apalagi menelepon nomor asing itu. Tapi, alangkah indahnya bila SMS itu berasal dari istri, kekasih, keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Siapa yang tak bahagia bila diberi tempat setinggi itu di dalam hati seseorang?
Dampak buruknya lalu-lintas pada jiwa dan penatnya pikiran, bisa sirna dengan kalimat seperti itu. Saya pun memilih membayangkan SMS itu dikirim dari ponsel istri saya. Mobil di depan bergerak lambat, tapi saya tak ingin membunyikan klakson. Mobil di jalur kiri dan kanan menyerobot jalur saya, tapi saya ikhlaskan. Saya menyalakan lampu sein untuk pindah jalur, tapi justru dihalangi, juga saya ikhlaskan. Mobil saya pun terasa melaju tenang dan damai...
Rupanya, ketika diri kita diberi makna yang tinggi oleh seseorang, hati dan pikiran ini rasanya damai. Padahal, di jalanan, meski Anda seorang pimpinan perusahaan, karyawan bergaji besar, selebriti, atau apa pun, akan diserobot, diklakson, bahkan diumpat bila canggung saat berjibaku di bottle neck. Eksistensi diri pun tedegradasi. Jabatan, pangkat, penghasilan tak membuat Anda berarti di dalam situasi itu (kecuali Anda pejabat negara yang bergerak dengan kawalan khusus).
Hanya sekalimat SMS, berhasil membuat saya merasa senang dan berarti. Mengemudi pun jadi lebih enak. Izinkan saya mengajak, marilah mulai sekarang kita saling memuji, saling menyanjung, dan saling memperlihatkan cinta ketika berada di tengah kemacetan lalu-lintas. Atau ketika Anda tahu orang terdekat Anda hendak turun ke jalan, kirimi dia pesan yang indah, sebelum ia mulai mengemudi. Satu kali saja. Karena berkali-kali justru akan mengganggunya. Atau, lebih baik, telepon dia, singkat saja, sambil ingatkan untuk selalu berhati-hati...
Tiba-tiba masuk lagi pesan dari nomor asing itu. “Kmu trima SMS-ku tdi kan? Aq gnti nmr bru... Love... istrimu...”
|