|
|
Don't Call Me Chubby!
Cobalah tantang dia dan rasakan performanya.
Produk mobil berlogo ‘tiga intang dalam lingkaran’ memang kerap dijadikan sarana “kenakalan” para tuner Brabus yang bermarkas di Bottrop, Jerman, untuk menciptakan sebuah mobil yang lebih “galak” ketimbang versi standarnya. Mobil ini bertubuh mungil dan berwajah lucu bagai bayi yang gemuk (chubby). Namun, di balik kelucuannya, tersimpan sebuah senjata ampuh yang mampu “meledak” di saat fortwo Brabus diajak bermain di jalan raya.
Secara tampilan, mobil dua tempat duduk ini masih serupa dengan fortwo yang telah hadir lebih dahulu di pasar Indonesia. Tetapi, khusus di varian Brabus, ada beberapa tampilan luar yang berbeda, seperti desain bumper depan dengan ‘daytime running light’ dan bumper belakang dengan knalpot ganda yang ditaruh di tengah. Tak hanya itu, emblem Brabus sebagai penanda mobil ini berperforma lebih “galak”, terpasang di eksteriornya, mulai dari grille, rumah spion, pintu bagasi, knalpot, hingga velg.
Masuk ke dalam kabin, semakin kental aura sportifnya, seperti jok sportif, indikator kecepatan hingga 200 kpj, pengukur rpm, jam di atas dashboard, brake lever, shift knob, hingga pedal set Brabus. Coba bayangkan sebuah mesin 3-silinder segaris, 999 cc, turbocharger, yang mampu menyalurkan tenaga ke roda belakang sebesar 102 hp pada 6.000 rpm. Sedangkan akselerasi spontan yang membuat tubuh saya terhempas adalah berkat torsi besarnya, 147 Nm, yang sudah bisa diraih mulai 2.500 rpm.
Performa fortwo Brabus berbobot 795 kg ini mampu mengalahkan sebuah mesin 4-silinder non turbo milik Toyota Yaris, misalnya, dari segi rasio tenaga terhadap bobot (power-to-weight-ratio), yakni 0,13 hp/kg berbanding 0,10 hp/kg. Tak pelak, performa mesinnya cukup menjanjikan kepuasan untuk ukuran mobil bermesin 1,0 liter.
Handling smart Brabus cukup baik: setir akurat dan mudah dikendalikan. Sedangkan soal pengendaraan, sedikit ada pengorbanan dari kenyamanan, karena kerasnya suspensi yang digunakan. Suspensi yang keras itu memang diaplikasi untuk memberi kestabilan pada mobil mungil ini. Paculah smart Brabus dan temukan sensasi tarikan bawah hingga puncaknya. Tapi, sebagai mobil mini, tentu smart tidak bisa dibayangkan melesat di kecepatan tinggi sebagaimana mobil yang lebih besar. Bisa mencapai 155 kpj pun sudah memerlukan usaha yang mahir.
Untuk akselerasi, menurut klaim, hanya perlu 8,9 kpj untuk 0-100 kpj. Transmisi 5-speed otomatis memberi respon yang baik, meski perpindahan gearnya masih diganggu jeda.
Saya pun tidak khawatir dengan sistem keselamatan smart Brabus. Fitur ESP, ‘hill start assist’, ABS, ‘acceleration skid control’, dan airbag memberi ketenangan dan kepercayaan diri. Satu lagi yang saya suka adalah velgnya yang berbeda ukuran untuk depan dan belakang. Roda depan memakai velg 16 inci x 5,5J berbalut ban 175/50, sedangkan roda belakang memakai velg 17 inci x 7,5J berbalut ban 225/35. Tampilan smart Brabus memang mengindikasikan dirinya bukanlah mobil mini sembarangan.
Akbar Bakti
Foto: Aditya N (Mercedes-Benz)
|