|
|
|
BMW X5 xDrive30d
Model Uji: BMW X5 xDrive30d
Harga: Rp 1.298.000.000 (OFR)
* Tenaga 245 hp
* Torsi 543 Nm
* 0-100 kpj 8,6 detik
*Konsumsi BBM 10,8 kpl (kombinasi)
* 80-0 kpj 27 m (2,7 detik)
Kami suka
Pengendalian, performa
Kami tidak suka
Dimensi terlalu besar di dalam kota, PDC terlalu sensitif
BMW X5 merupakan SUV perdana racikan manufaktur Bavaria yang membuat pasar jatuh hati sejak awal kemunculannya di tahun 1999 (kode E53). Sedari awal, BMW meracik mobil ini sebagai sport activity vehicle (SAV) ketimbang SUV (sport utility vehicle), di mana X5 ditekankan pada kemampuan jalan raya, ketimbang kinerja di medan off-road. X5 adalah perintis mobil gagah berkemampuan hebat di jalan aspal, dan konsep ini kemudian diikuti oleh banyak produk lain, seperti Porsche Cayenne, VW Touareg, Volvo XC90, Range Rover Sport, dan Mazda CX-9.
Dari pemosisian produk yang tepat itulah, X5 mencetak penjualan 381.000 unit (di Amerika), melebihi perkiraan pengamat permobilan. Di Indonesia, X5 hadir pertama kali tahun 2001, dan hingga 2010 silam tercatat 879 unit X5 melenggang di jalan. Sejak 2006, BMW telah melahirkan X5 generasi kedua (E70), yang desainnya kental nuansa generasi pertama, namun lebih panjang 187 mm, berikut wheelbase yang mulur 113 mm.
Desain & Rekayasa
Perubahan eksterior ter-utama terlihat di bumper depan dan belakang. Ubahan juga meliputi headlamp dengan ‘LED daytime running light’ (lampu siang hari) serta bi-xenon. Formasi lampu belakang berbentuk huruf ‘L’ juga dilengkapi lampu LED horisontal. Di bawah lip bumper belakang, tersemat dua knalpot di sisi kiri dan kanan. Untuk tampilan luar, tak tampak perbedaan antara varian bensin dan diesel, kecuali huruf ‘d’ dan ‘i’ di emblemnya.
Desain ini terbilang agresif di--banding rival sekelasnya, seper-ti Mercedes ML dan Lexus RX. X5 memiliki bodi yang lebih besar dari ML, mengingat X5 punya opsional untuk 7-penumpang. Berbicara soal 7-penumpang, BMW mengaku bahwa ada penguatan pilar C dan D serta dek belakang, agar penumpang dibaris ketiga lebih aman. Mobil yang kami uji, X5 xDrive-30d, mengusung depot daya diesel 6-silinder bermaterial aluminium. Tidak hanya bermain soal material, BMW juga merekonstruksi detak mekanis ini agar lebih ringan dan lebih cepat melepas panas, di mana kedua hal tersebut adalah kelemahan dasar mesin diesel.
Salah satu tulang punggung mesin agar lebih mampu mele-pas panas, yaitu aplikasi teknologi ‘brake energy regeneration’. Saat terjadi pengereman, energi akibat deselerasi dikonversi menjadi energi listrik. Energi ini lantas disalurkan ke alternator. Dengan begitu, mesin tidak perlu bekerja ekstra saat engine braking. Walhasil, mesin tidak mudah panas. Teknologi ‘common rail’ (injeksi langsung bahan bakar sesuai kebutuhan mesin) dengan piezo injectors, serta turbocharger, tak lupa disematkan.
Daya sebesar 245 hp pada 4.000 rpm dan torsi 540 Nm pada 1.750 rpm disalurkan via transmisi Steptronic 8-speed sebagai perlengkapan standar. Selain menawarkan ‘adaptive drive’ (sebuah fitur yang mampu memangkas body roll), X5 kali ini dibekali teknologi khas BMW: xDrive. Teknologi ini akan membagi torsi dan tenaga melalui transfer case. Di dalamnya, kopling multi-cakram dikontrol secara elektronis untuk mendistribusikan daya ke roda, disesuaikan dengan kondisi jalan. Bila roda berputar di permukaan jalan licin, as akan dikunci untuk mencegah roda spin (berputar di tempat). Lalu, daya akan disalurkan kepada sisi ban lainnya yang tidak kehilangan traksi.
Dalam kondisi normal, xDrive akan membagi saluran daya mesin antara poros depan dan belakang, dengan proporsi 40:60. Sebuah sensor juga dipasang untuk memantau gerak roda, misalnya manakala terdeteksi adanya ban spin, maka dalam hitungan kurang dari satu detik, xDrive akan mengoreksi distribusi tenaga dari mesin ke as roda.
Interior
Beralih ke dashboard, meter cluster memiliki huruf dan jarum yang berkarakter sportif. Meski terlihat minimalis, toh kerapihan dan fungsionalitasnya tetap terjaga. Bagian fascia tengah yang lebar, terasa memperjauh jarak antara penumpang depan dan pengemudi. Namun, kesan lebar itu, ternyata tidak seirama dengan fakta bahwa saat jok pengemudi dimajukan, fascia ini cenderung menyentuh lutut pengemudi bertinggi badan sekurangnya 170 cm. Ruang lutut (knee room) seperti ini di luar ekspektasi untuk mobil yang berbadan besar. Agaknya, pengemasan kolom setir X5 telah menyita banyak ruang di situ.
Beruntung, ruang kaki (leg room) tergolong lebar, demikian pula dengan head room-nya. Untuk bagian atas, kesan lapang didapat dari penggunaan atap kaca panorama (untuk semua model). Sedangkan soal daya angkut, X5 berkonfigurasi lima penumpang, kecuali model xDrive50i, dengan tambahan jok ketiga untuk angkut tujuh orang.
BMW melapisi setiap kursi dengan bahan kulit berkualitas. Mengimbangi mutu kabin, terpasang rangkaian audio berkualitas tinggi. Sebanyak 12 speaker, berikut power amplifier 205 watt, layar monitor 6,5 inci, dan soket USB, terbilang memadai untuk menghibur penumpang. Hanya saja, demi keselamatan, menu iDrive, yang dapat menginformasikan keadaan mobil, kontrol audio, dan telematika, hanya bisa dioperasikan saat mobil diam. Namun, layar LCD yang juga mampu memutar DVD, CD, dan radio ini bisa beroperasi kapan saja.
Interior juga dilengkapi bera-gam fitur keselamatan: airbag depan dan samping, side head airbag untuk penumpang depan dan kursi baris ketiga, serta safety belt untuk setiap kursi lengkap dengan belt force limiter. Sandaran kepala juga dilengkapi fitur ‘crash-active headrests’ (mencegah cidera leher bila mobil ditabrak dari belakang). Di kursi baris kedua juga terdapat ISOFIX child seat. Secara keseluruhan, volume bagasi tercatat 620 liter dalam keadaan kursi baris kedua tegak dan 1.750 liter saat kursi dilipat.
BMW menyertakan PDC (park distance control) depan dan belakang untuk memantau halang-an saat mobil parkir. Tampilanya berupa mobil dengan kelir warna-warni, serta grafik radar dan suara ‘bip’ panjang. Hanya saja, sensitivitasnya terlalu tinggi. Alarm akan berbunyi, meski sensor hanya mendeteksi sebuah rumput alang-alang di trotoar. Tapi, jika fitur ini dianggap menganggu, Anda bisa menonaktifkannya via iDrive.
Performa
Satu hal yang patut diacungi jempol dari SUV ini, adalah performa mesin dieselnya. Rangkaian detak mekanisnya bisa mematahkan pameo awam soal akselerasi mesin diesel. Dengan induksi turbo berkompresi ratio 16,5: 1, Tekan pedal akselerator dalam-dalam dan rasakan jok seolah menghisap punggung Anda.
Mesin yang terdengar berisik dari luar, seolah menjadi senyap dan tergantikan oleh suara mesin yang mendesing seraya jarum tachometer berputar cepat, teruta-ma setelah melewati angka 1.750 rpm. Itulah saat torsi maksimal mulai dilontarkan. Turbo tidak memberikan gejala lag dan kecepatan terus bertambah seiring perpindahan gigi.
Deretan enam silinder plus turbo mampu menghasilkan tenaga 245 hp pada 4.000 rpm dan terasa mumpuni untuk menghela bobot X5 seberat 2.150 kg. Tak heran akselerasi 0-100 kpj diraih dalam 8,6 detik. Torsi dan tenaga besar itu disalurkan via transmisi 8-speed otomatis yang disebut Steptronic. Tidak hanya itu, perpindahan gear juga terasa akurat.
Hanya saja, jika pedal gas dihentak tiba-tiba, responsivitas mobil kurang terasa mengigit. Sensor ‘drive by wire’ untuk membuka ‘throttle body’ dan mengalirkan kabut BBM, seolah berpikir sejenak sebelum bereaksi. Namun, setelah itu, silakan saja injak pedal akselerator sepuasnya.
Satu lagi, pengujian ini menggunakan bahan bakar Shell Diesel. BMW Indonesia menyarankan para konsumennya untuk menggunakan bahan bakar sekelas PertaDex yang memiliki standar emisi Euro3, agar mesin lebih awet dan performa lebih baik. Agaknya, jika uji akselerasi dilakukan dengan PertaDex, X5 akan lebih baik lagi.
Pengendalian & Pengendaraan
Segudang fitur dijejalkan untuk membuat mobil ini nyaman sekali-gus aman. Suspensi yang telah mengalami sentuhan perbaikan kini terasa lebih lembut dan nyaman. Namun, di situ jugalah letak kelemahannya. Dibanding X5 sebelumnya yang stabil dengan suspensinya yang keras, X5 terbaru ini justru terasa agak limbung di kecepatan tinggi.
Dan seperti disebutkan, BMW X5 mengadaptasi sistem gerak xDrive (sisten AWD khas BMW). Hal ini membuat X5 diesel seolah tidak pernah kehilangan traksi. xDrive bekerja secara simultan melalui DSC dan ABS. Dalam pengendaraan normal, 40% tenaga akan tersalur ke roda depan, sementara sisanya ke belakang.
Pembagian ini tidaklah mutlak karena DSC (dynamic stability con-trol) akan membagi lagi pendistribusian tenaga sesuai kebutuhan. DSC juga dapat mengerem roda jika dirasakan telah kehilangan traksi. Hal ini kami buktikan saat mengujinya di jalan basah. Gejala aquaplaning sedikit sekali terjadi, meskin ada genangan air.
X5 mampu menikung dengan tajam dan akurat berkat sistem steering rack & pinion dengan imbuhan PAS (power assisted steering). Gejala oversteer maupun understeer dapat diminimalkan oleh fitur pengendalian seperti DTC (dynamic traction control), yang merupakan salah satu bagian dari DSC. Akurasi setir terbilang baik, untuk bermanuver di kecepatan tinggi ataupun berkendara di kota.
Membeli & Memiliki
BMW memasarkan berbagai va-rian X5 di Tanah Air. Selain X5 xDrive30d, masih ada X5 xDrive35i bertenaga 306 hp, serta varian pa-ling bertenaga X5 xDrive50i (407 hp). Khusus untuk X5 xDrive30d, BMW Indonesia membanderolnya Rp 1,458 miliar (OFR). Harga yang pantas berkat segudang teknologi dan kenyamanannya. X5 diesel sepertinya juga boleh merasa aman di kelas luxury SUV 4x4. Sebab, di antara pesaingnya, seperti Lexus-Harrier RX350, Audi Q7, atau Mercedes-Benz ML-class, tidak ada yang memiliki varian diesel.
Hanya saja, yang harus diperhatikan adalah penggunaan bahan bakarnya. Selain PertaDex, BMW sendiri masih ‘mengizinkan’ X5 diesel menenggak diesel dari Shell, Petronas, ataupun Total, meski performa maksimal tidak akan terpenuhi, serta interval service rutin harus diperpendek. Diluar soal bahan bakar, garansi dua tahun tanpa batasan kilometer serta jamin-an ‘5 Years Service Inclusive’ bisa menjadi pertimbangan.
|