VW Scirocco
Posting date 24-01-2012

Kesukaan ayah saya akan merek Volkswagen (VW) awalnya tidak mendapat saingan di rumah. Beliau adalah pengguna VW Caravelle T5, sedangkan anak-anaknya tidak ada yang memakai mobil berlogo VW. Tapi, bagaimana saya kemudian menjadi tertarik dengan merek asal Jerman itu? Kebetulan saya sempat diajak oleh ayah untuk servis rutin Caravelle di VW MT Haryono, Jakarta Timur. Ketika itu, sales kenalan ayah mengajak ngobrol dan bertanya apa mau test drive VW Golf? Karena tidak ada kerjaan, maka saya mengiyakan.

Setelah berkeliling mencoba-nya di jalan raya, langsung saya berkata kepada ayah, “Aku mau ganti mobil dengan Golf.” Saya melanjutkan, “Tapi, bukan yang ini, aku mau yang Golf GTI.” Sontak ayah kaget dan menggelengkan kepala melihat keinginan saya. “Nana, kamu tidak salah pilih? Itu kan mobil kencang!” tukas ayah seketika. Tetapi, saya tetap pada pendirian. Namun, saat memperhatikan sudut showroom, saya jatuh hati kepada sebuah coupe VW Scirocco berwarna abu-abu. Maka, saat itu juga, saya berkata kepada sales-nya untuk mengubah SPK Golf GTI dengan Scirocco.

Menurut saya, desain eksterior Scirocco itu “ganteng”, dan cocok dijadikan mobil sehari-hari. Kala melihat brosurnya, saya memutuskan memilih warna raising blue. Memang menurut sebagian orang, saya agak “kebanting” dengan ukuran mobilnya. Tetapi, bagi saya, duduk di atas jok sportnya tidak menyulitkan saya memantau kondisi lalu lintas di hadapan saya. Namun, ada sedikit kelemahan dari mobil ini, yaitu blind spot yang banyak,  sehingga agak susah memantau bagian belakang, khususnya  ketika parkir mundur.

Oh iya, walau ‘imut’ begini, saya berani loh memacu Scirocco ini hingga 200 kpj dan itu pernah saya lakukan di tol Jagorawi pada malam hari. Saya mudah menggapai angka tersebut karena saya mendapat “kompor” dari teman-teman dari Nu Volks (komunitas VW baru) untuk memasang ECU aftermarket lansiran APR stage 1. Walau sudah dimodifikasi, konsumsi BBM-nya masih 19 kpl dan itu pun saya belanjakan untuk bensin super extra dan biasanya seminggu habis Rp 380 ribu.

Konsekuensi mengendarai coupe sport di jalan Jakarta setiap hari adalah harus berkorban rasa nyaman akibat keras-nya suspensi sport. Tetapi, bagi saya, itulah seni dari membawa sebuah mobil kencang. Sejatinya, mobil ini suka saya gunakan sendirian untuk ke kantor atau jalan-jalan, dan bagasinya cukup besar untuk membawa sepatu, perbekalan fitness, maupun perbekalan yoga saya.

Akses masuk bagi penumpang belakang juga mudah, dan kata teman saya duduk di bangku belakang masih nyaman. Sayang, atap panoramic-nya tidak bisa dibuka. Walau demikian, bagi saya sudah lebih dari cukup sebagai pendukung nuansa romantis dengan orang yang saya sayangi.

Terakhir, saya mulai “gatal” untuk memodifikasi mobil yang baru dimiliki awal tahun 2011 ini. Mungkin dalam waktu dekat saya akan meningkatkan performa mesinnya dengan memasang header, exhaust racing, suspensi sport, beserta velg yang lebih ri-ngan. Mobil ini tetap akan saya gunakan setiap hari.

Herdiana Riani Putri, karyawati swasta, tinggal di Jakarta Pusat
 

| More
Name
Email
Comment
 
Validation
 
COMMENTS
 
THIS MONTH EDITION
ON THE COVER

Audi A8 Hybrid
SUV dari Bentley
DRIVE :
New Toyota Yaris
New Dodge Journey
Subaru BRZ

ROAD TEST
Nissan Juke. Crossover yang dirilis di awal Juni 2
Kehadiran Smart Fortwo-dengan bentuk yang unik-cuk
BMW X5 merupakan SUV perdana racikan manufaktur Ba
Desain generasi kedelapan dari Honda Accord ini ta
Everest VS Pajero
teaser
Perhatikan Kondisi Rel P
teaser
Memasuki penghujung tahun, ikl
teaser
Kehadiran duet Ford Everest da
teaser
Kehadiran Toyota Vios pada tah
Asus meluncurkan seri ET2700 All in On...
Bertempat di gedung Oktagon, Gunung Sah...
Sebagai sebuah bentuk kegiatan CSR PT Br...
JAKARTA (25/1) Setelah sukses menggelar ...
 
About Us | Contact Us | Subscribe | Advertise | Recommended Links | Terms & Conditions

MRA MEDIA GROUP - AUTOCAR INDONESIA
Copyright © 2009