|
|
Banyak yang bilang aneh mengenai kesukaan saya dalam memilih mobil. Ya, sebuah SUV bagi teman-teman saya terlalu gagah untuk dijadikan sebagai mobil kesayangan. Tetapi, sejak duduk di bangku SMA (sekolah menegah atas), saya sudah suka dengan SUV. Saat ini, walau SUV yang saya pilih lebih banyak saya gunakan di dalam kota, tetap saja saya mencari ukuran yang besar, demi keamanan saat mengemudi seorang diri.
Berbekal kebiasaan saya memakai SUV lansiran Toyota, Land Cruiser VX 100 series, yang berbagi penggunaannya dengan suami, maka saya berusaha mencari mobil baru yang akan digunakan oleh saya pribadi tanpa harus berebut dengan suami.
Saya memilih Fortuner Diesel G AT buatan tahun 2010 ini atas kehendak sendiri. Namun, suami menyarankan saya meminang varian dieselnya. Selain mesinnya dibekali turbocharger, sehingga performanya juga baik seperti milik Land Cruiser, Fortuner ini juga punya bodi bongsor namun tidak sepanjang Land Cruiser.
Selain itu, saya tertarik dengan warna putih yang ada di brosur saat saya pertama kali mengunjungi showroom Auto 2000 di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat. Pewarnaan cerah pada bodi besarnya, membuat Fortuner terlihat lebih gagah dan mewah. Bahkan, tak lama setelah mobil ini memiliki STNK dan nomor polisi, saya langsung mengganti velg asli dengan velg after market 20 inci di gerai velg di bilangan Mahakam, Jakarta Selatan.
Walau sudah memakai velg besar, pengendalian SUV ini tidak mengalami perubahan signifikan. Justru semakin mantap. Sosok bongsor Fortuner ini tidak menyulitkan saya saat parkir maupun berkendara di Jakarta. Senangnya, meskipun saya memakai gaun atau rok, tidak mengalami kesulitan untuk masuk ke dalam kabinnya. Ini berkat hadirnya foot step orisinal dari Fortuner. Bahkan, kabin belakangnya yang punya bangku baris ketiga, hampir tidak pernah saya gunakan. Justru area tersebut jadi tempat menaruh sepatu ‘high heels’ saya.
Sayangnya, saya tidak terlalu paham bagaimana mengurus mobil. Biasanya, yang memeriksa kondisi mobil sehari-hari adalah supir kami. Saya terima beres saja. Yang jelas, saya suka dengan performa mesinnya. Enak, walau memakai transmisi otomatis, akselerasinya cukup baik. Namun, yang menjadi ganjalan adalah saya tidak suka dengan akustik kabinnya, suara mesinnya berisik dan menembus hingga ke kabin.
Sudah sembilan bulan Fortuner berwarna putih ini digunakan, dan saya belum pernah mengalami masalah teknis. Mobil ini memang lebih sering dipakai saya untuk jalan-jalan ke mall atau melakukan kegiatan sehari-hari. Dalam seminggu, Fortuner ini biasa menghabiskan dana bahan bakar sebesar Rp 200 ribuan. Tapi, jangan tanya berapa konsumsi bahan bakarnya, karena saya tidak pernah benar-benar mengukurnya.
Windy Hartanto, tinggal di Pondok Indah, Jakarta Selatan
|