|
Sejak kecil, saya selalu terkagum-kagum dengan mobil Jeep. Dulu saya suka dengan Jeep Wrangler model YJ. Namun, yang pertama kami miliki adalah Jeep Cherokee, dan langsung jadi mobil kesayangan saya, meskipun di dalam hati Wrangler tetap mobil idaman.
Tidak berapa lama kemudian, keluarlah model Wrangler TJ. Saya pun semakin terkagum-kagum. Hingga akhirnya muncul model JK yang saya gunakan sekarang ini. Saya mendapat mobil ini pada 2008 lalu. Meski Wrangler ditakdirkan sebagai off-roader, namun bisa dikatakan SUV berwarna perak ini tidak pernah menyentuh medan lumpur, dan menjadi mobil ‘spesialis perkotaan’.
Pemakaiannya pun hanya berkisar dari rumah ke sekolah. Terkadang juga digunakan untuk bepergian ke luar kota bersama keluarga, tentu lewat jalan aspal. Hingga saat ini, odometernya baru menunjukkan angka 8.100 km.
Hal lainnya yang menarik mengenai mobil ini adalah, hadirnya monitor di tengah dashboard. Monitor ini adalah asli bawaan pabrik. Setahu saya, jarang ada Wrangler yang dilengkapi monitor seperti ini, kecuali pemiliknya menambahkan sendiri (after market).
Walau ini adalah mobil yang diklaim tahan banting di segala medan, namun bukan berarti bebas dari masalah. Yang paling terasa adalah bunyi berderit dari pintu depan kiri dan kanan. Selain itu, audio sempat berbunyi kurang bagus. Namun, untuk yang terakhir ini sekarang sudah beres dan bersuara normal. Nah, kalau soal pintu, sepertinya itu memang bawaan Jeep. Setahu saya, hampir semua Jeep Wrangler JK memiliki problem yang sama.
Saat ini, Wrangler saya bekali velg 24 inci dari DVS Lexington dengan ban Toyo Proxes. Jujur, kenyamanan berkurang drastis dengan ukuran roda seperti ini. Hal yang paling terasa adalah kesulitan saat berputar dan berbelok patah.
Bukan karena ban menyentuh fender, tapi memang pengaturannya disesuaikan dengan kondisi velg lebar. Agak menyebalkan memang, sehingga saya putuskan untuk memasang kembali velg standarnya. Biarlah tidak bergaya lagi, yang penting nyaman.
Redhitama, tinggal di Bintaro, Tangerang, Banten
|